SERPIHAN KISAH
OLEH : Titin. S
Awal bulan April 2009 adalah salah satu hari bersejarah
dalam hidupku. Karena pada saat itu adalah hari pertamaku menjadi
CPNS guru disalah satu sekolah dasar negeri di kota Depok. Deg – deg an saat pertama kali kulangkahkan
kakiku menuju kantor gutu. Dengan hati berdebar dan sedikit gugup kuberi salam
kepada para guru yang sudah ada didalam kantor.
Assalammualaikum,
bapak saya mau bertemu dengan bapak
kepala sekolah apakah beliau ada?, tanyaku sopan kepada salah seoranng
guru yang sudah terlihat senior. Oh,,
iya ada silahkan masuk bu, jawab beliau dengan halus, silahkan duduk bu ,
tunggu sebentar ya!. Lanjutnya. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum dan
kuturuti perintahnya untuk duduk menunggu. Masih dengan hati berdebar kupandangi ruang
kantor itu. Disudut sebelah kanan ada seorang ibu guru yang tampak sedang sibuk
dengan buku-bukunya. Kuperhatikan bapak yang tadi mempersilahkanku, beliau
berperawakan tinggi kurus dengan rambut keriting dan kulit sedikit gelap. Dari
cara berbicaranya sepertinya beliau dari pulau seberang, entah Ambon ataupun Papua,
karena memang aku sedikit kesulitan untuk membedakannya. Kualihkan pandangan ke
lemari kayu, kuihat diatas lemari itu ada beberapa piala yang tampak sudah
rusak. Bu, silahkan masuk!, suara sang
bapak mengagetkanku. Oh, baik bapak, terimakasih, kujawab sambil berjalan
menuju ruang kantor kepala sekolah. Sesosok laki-laki tampak sibuk dengan
buku-buku tebalnya. Lelaki itu menoleh
sekilas sambil mempersilahkan aku duduk didepannya. Iya bu, ada yang bisa saya bantu, sapanya
dengan wajah datar karena memang tampaknya beliau sedang sibuk. Bapak perkenalkan nama saya titin, saya
kesini untuk melapor bahwa saya mendapat tugas untuk mengajar di SD ini, dan ini
surat tugasnya , jawabku sambil menahan rasa gemetaran yang membuat suaraku sedikit parau.
Lelaki itu tersenyum ramah sambil menyambut surat yang aku sodorkan, kemudian
beliau berbicara panjang lebar tentang penerimaannya dan tentang tugas2
sementara yang harus aku selesaikan sambil menunggu tahun ajaran baru sebelum
mendapat tugas pokok menjadi wali kelas.
Lama berbincang rupanya Bapak Kepala Sekolah masih lupa
untuk mengenalkan siapa namanya, namun sekilas kubaca dipapan nama yang tertera
dibajunya Drs. Abdul Hamid , MM.
To be Continue………………
Anaknya mungkin gagal (bagi sebagian banyak orangtua
lainnya)
Anaknya berada pada urutan belakang
PUISIK
Hari ini
Ibu muda itu tidak mampu tertawa atau menangis
Mendengar pertanyaan sang anak
Mengapa ibu sedih?
Ada apa dengan aku?
Ada apa dengan raportku?
Seperti ada bendungan kokoh di mulut sang ibu
Tak mampu menjawab
Hanya tersenyum, menangis, lalu tertawa kecil
Kemudian ibu muda berkata kepada anaknya
Di mata ibu, hari ini dan seterusnya kamu adalah juara
Kamu adalah bintang
Nilai kamu 100, karena selalu rajin sekolah
Nilai kamu 100, karena selalu cium ibu sebelum berangkat ke sekolah
Nilai kamu 100, karena kamu selalu takut berbuat salah
Nilai kamu 100, karena jika kamu bertengkar cepat minta maaf
Nilai kamu 100, karena kamu punya banyak sahabat
Nilai kamu 100, karena setiap pagi hari menyapa nenek tua di sebelah sekolahmu
Hari ini
Ibu muda itu tidak mampu tertawa atau menangis
Lalu keluar dari kelas dengan menggenggam tangan anaknya, lalu berbisik …
“SAYANG, KAMU JUARA BAGI IBU DAN BAGI SEISI BUMI, PERCAYALAH …”